<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>War Archives &#8211; hobinonton</title>
	<atom:link href="https://hobinonton.id/genre/war/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://hobinonton.id/genre/war/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Aug 2026 22:37:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://hobinonton.id/storage/2026/08/cropped-favicon-hobinonton-32x32.png</url>
	<title>War Archives &#8211; hobinonton</title>
	<link>https://hobinonton.id/genre/war/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Der Tiger: Jawaban Paling Gelap untuk Film Tank Seperti Fury?</title>
		<link>https://hobinonton.id/ulasan-film/der-tiger-jawaban-paling-gelap-untuk-film-tank-seperti-fury/</link>
					<comments>https://hobinonton.id/ulasan-film/der-tiger-jawaban-paling-gelap-untuk-film-tank-seperti-fury/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arya Wicaksana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 05:57:00 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">https://hobinonton.id/?post_type=ulasan-film&#038;p=4569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alih-alih mengikuti pasukan besar, cerita berpusat pada satu tank Tiger dan lima orang di dalamnya. Mereka dikirim menjalankan misi rahasia jauh di belakang garis musuh—misi..</p>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/der-tiger-jawaban-paling-gelap-untuk-film-tank-seperti-fury/">Der Tiger: Jawaban Paling Gelap untuk Film Tank Seperti Fury?</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-group is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-fdcf44e1 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-ab05b131 wp-block-column-is-layout-flow" style="padding-right:0;flex-basis:80%">
<div class="wp-block-essential-blocks-text  root-eb-text-a8npi"><div class="eb-parent-wrapper eb-parent-eb-text-a8npi "><div class="eb-text-wrapper eb-text-a8npi" data-id="eb-text-a8npi"><h3 class="eb-text">Perang sering digambarkan lewat dentuman meriam dan kemenangan besar. <em>Der Tiger</em> (2025) justru memilih arah yang lebih sunyi—lebih dekat ke ketakutan manusia yang pelan-pelan merayap, daripada heroisme yang meledak-ledak. Film perang Jerman ini disutradarai Dennis Gansel.</h3></div></div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih mengikuti pasukan besar, cerita berpusat pada satu tank Tiger dan lima orang di dalamnya. Mereka dikirim menjalankan misi rahasia jauh di belakang garis musuh—misi yang dari awal terasa terlalu sunyi untuk disebut wajar. Tidak ada pasukan cadangan, tidak ada perlindungan tambahan, hanya baja tebal yang perlahan berubah jadi ruang sempit penuh paranoia. Sejak awal film sudah memberi sinyal: ini bukan kisah kemenangan, tapi perjalanan menuju sesuatu yang lebih gelap.<br><br>Beberapa menit pertama langsung menekankan rasa terjebak. Kamera lebih sering berada di dalam tank daripada di medan perang terbuka. Penonton dipaksa ikut merasakan ruang sempit, suara mesin yang monoton, dan ketegangan kecil yang pelan-pelan membesar. Percakapan antar anggota kru juga terasa janggal—bukan karena dialognya buruk, tapi karena masing-masing seperti menyembunyikan sesuatu. Film ini perlahan membangun kesan bahwa musuh mereka bukan cuma tentara Soviet, melainkan rasa bersalah yang terus mengikuti mereka.<br><br>Menariknya, <em>Der Tiger</em> tidak langsung memberi jawaban soal misi mereka. Setiap pertemuan dengan musuh terasa lebih seperti gangguan psikologis daripada adegan aksi biasa. Ada momen-momen yang terasa aneh, hampir seperti mimpi buruk yang tidak mau selesai. Di titik inilah film mulai terasa berbeda dari film perang konvensional. Gansel tampaknya tidak ingin membuat film tank seperti <em>Fury</em>, melainkan sesuatu yang lebih dekat ke perjalanan mental—tentang tentara yang pelan-pelan menyadari apa yang sebenarnya mereka lakukan selama perang.<br><br>Bagian paling kuat film ini justru bukan adegan pertempuran, tetapi perubahan emosi para karakter. Komandan yang awalnya terlihat dingin mulai kehilangan kendali. Seorang kru yang tampak santai justru menjadi yang paling gelisah. Film seperti sengaja membuat penonton meragukan apa yang benar-benar terjadi dan apa yang hanya hidup di kepala mereka. Ketika cerita mulai mengarah ke jawaban, film justru makin menahan diri—membiarkan rasa tidak nyaman itu bertahan lebih lama.<br><br>Secara visual, film ini tidak terlalu bombastis, tetapi sinematografinya terasa “rapat”. Banyak adegan malam, kabut, dan hutan yang membuat tank terasa seperti benda asing yang tersesat. Skor musiknya juga tidak mencoba terdengar heroik—lebih seperti suara latar yang membuat suasana makin berat. Hasilnya bukan film perang yang memacu adrenalin, melainkan film perang yang pelan-pelan mengikis perasaan.<br><br>Hal yang membuat <em>Der Tiger</em> menarik adalah cara film ini memperlakukan perang bukan sebagai konflik militer, tetapi sebagai beban psikologis. Penonton tidak diajak bersorak saat tank menembak. Justru sebaliknya, setiap tembakan terasa seperti sesuatu yang harus dibayar nanti. Ada nuansa anti-perang yang kuat, tetapi tidak disampaikan lewat dialog panjang—melainkan lewat rasa bersalah yang terus menghantui karakter-karakternya.<br><br>Secara keseluruhan, <em>Der Tiger</em> memang bukan film perang yang mudah dinikmati semua orang. Ritmenya pelan, ceritanya sengaja menyimpan banyak rahasia, dan aksi tidak pernah benar-benar dijadikan pusat. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Jika Fury menghadirkan tank sebagai simbol keberanian dan solidaritas di tengah perang, <em>Der Tiger</em> justru terasa seperti sisi gelap yang tak pernah diceritakan—tentang rasa bersalah, ketakutan, dan perang yang terus hidup di kepala para prajuritnya. Jadi, apakah <em>Der Tiger </em>ini benar-benar terasa seperti jawaban paling gelap untuk film tank seperti <em>Fury</em>?</p>
</div>



<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:20%">
<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained wp-container-3 is-position-sticky">
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="230" height="345" src="https://hobinonton.id/storage/2026/03/der-tiger-2025-poster.jpg" alt="" class="wp-image-4570" style="object-fit:cover" srcset="https://hobinonton.id/storage/2026/03/der-tiger-2025-poster.jpg 230w, https://hobinonton.id/storage/2026/03/der-tiger-2025-poster-200x300.jpg 200w" sizes="(max-width: 230px) 100vw, 230px" /></figure>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-e213d4d2 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-top:0px;margin-bottom:0px">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-87c3901c wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Pemeran Utama</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-pemeran wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/pemeran/andre-hennicke/" rel="tag">André Hennicke</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/arndt-schwering-sohnrey/" rel="tag">Arndt Schwering-Sohnrey</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/david-schutter/" rel="tag">David Schütter</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/laurence-rupp/" rel="tag">Laurence Rupp</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/leonard-kunz/" rel="tag">Leonard Kunz</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/sebastian-urzendowsky/" rel="tag">Sebastian Urzendowsky</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/tilman-straus/" rel="tag">Tilman Strauß</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/yoran-leicher/" rel="tag">Yoran Leicher</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--1" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Sutradara</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-sutradara wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/sutradara/dennis-gansel/" rel="tag">Dennis Gansel</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--2" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Penulis</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-penuliscerita wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/colin-teevan/" rel="tag">Colin Teevan</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/dennis-gansel/" rel="tag">Dennis Gansel</a></div></div>
</div>
</div>



<div style="height:40px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/der-tiger-jawaban-paling-gelap-untuk-film-tank-seperti-fury/">Der Tiger: Jawaban Paling Gelap untuk Film Tank Seperti Fury?</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hobinonton.id/ulasan-film/der-tiger-jawaban-paling-gelap-untuk-film-tank-seperti-fury/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Munich, The Edge of War: Diplomasi di Ujung Jurang</title>
		<link>https://hobinonton.id/ulasan-film/munich-the-edge-of-war-diplomasi-di-ujung-jurang/</link>
					<comments>https://hobinonton.id/ulasan-film/munich-the-edge-of-war-diplomasi-di-ujung-jurang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bayu Cakrawala]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 05:17:00 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">https://hobinonton.id/?post_type=ulasan-film&#038;p=4491</guid>

					<description><![CDATA[<p>Disutradarai oleh Christian Schwochow dan diadaptasi dari novel karya Robert Harris, film ini berfokus pada Konferensi Munich tahun 1938. Di titik inilah Neville Chamberlain bertemu..</p>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/munich-the-edge-of-war-diplomasi-di-ujung-jurang/">Munich, The Edge of War: Diplomasi di Ujung Jurang</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-group is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-5da67cd9 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--x-small)">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-ab05b131 wp-block-column-is-layout-flow" style="padding-right:0;flex-basis:80%">
<div class="wp-block-essential-blocks-text  root-eb-text-a8npi"><div class="eb-parent-wrapper eb-parent-eb-text-a8npi "><div class="eb-text-wrapper eb-text-a8npi" data-id="eb-text-a8npi"><h3 class="eb-text">Sejarah sering mencatat perang sebagai rangkaian ledakan dan pertempuran besar, tapi keputusan paling menentukan justru lahir dari ruang-ruang sunyi penuh negosiasi dan ketakutan. <em>Munich – The Edge of War</em> (2021) mengajak melihat momen genting menjelang Perang Dunia II, ketika para pemimpin dunia berusaha menunda bencana yang sebenarnya sudah di ambang pintu.</h3></div></div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Disutradarai oleh Christian Schwochow dan diadaptasi dari novel karya Robert Harris, film ini berfokus pada Konferensi Munich tahun 1938. Di titik inilah Neville Chamberlain bertemu dengan Adolf Hitler untuk membahas nasib Cekoslowakia. Alih-alih menyajikan konflik berskala besar, film ini memilih sudut pandang yang lebih intim—melalui dua sahabat lama yang kini berdiri di sisi berseberangan.<br><br>Hugh Legat (George MacKay), seorang pegawai muda Inggris, dan Paul von Hartmann (Jannis Niewöhner), diplomat Jerman yang diam-diam menentang rezim Nazi, dipertemukan kembali di tengah krisis politik yang memanas. Pertemuan mereka bukan sekadar reuni emosional, tapi juga awal dari misi berbahaya: menyelundupkan dokumen rahasia yang bisa membuka mata dunia tentang rencana ekspansionis Hitler.<br><br>Ketegangan film ini tidak datang dari aksi fisik, melainkan dari tekanan waktu dan paranoia. Setiap percakapan terasa seperti permainan catur, setiap langkah penuh risiko. Hugh harus memilih antara loyalitas terhadap negaranya atau keberanian untuk memperingatkan sesuatu yang lebih besar. Sementara Paul hidup dengan ketakutan konstan sebagai pengkhianat di negaranya sendiri.<br><br>Relasi dua karakter ini menjadi inti emosional cerita. Persahabatan mereka terasa rapuh, dibentuk oleh kenangan masa lalu tapi diuji oleh realitas politik yang kejam. Ada rasa percaya, tapi juga kecurigaan yang tak pernah benar-benar hilang. Film ini berhasil menangkap bagaimana perang tidak hanya memecah negara, tapi juga hubungan personal yang paling dekat sekalipun.<br><br>Sosok Neville Chamberlain, yang diperankan oleh Jeremy Irons, digambarkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi dari biasanya. Ia bukan sekadar simbol kebijakan “appeasement” yang sering dikritik, tapi seorang pria tua yang benar-benar percaya bahwa ia bisa mencegah perang. Keyakinannya terasa tulus, meskipun penonton sudah tahu bahwa upayanya pada akhirnya gagal.<br><br>Di sisi lain, Hitler muncul sebagai bayangan ancaman yang konstan—tidak selalu hadir secara fisik, tapi selalu terasa. Film ini tidak berusaha mendalami karakternya secara kompleks, melainkan menjadikannya simbol dari kekuatan destruktif yang sulit dihentikan.<br><br>Secara visual, <em>Munich – The Edge of War</em> tampil elegan dan terkendali. Desain produksinya menangkap atmosfer Eropa pra-perang dengan detail yang meyakinkan: ruang konferensi yang megah tapi menekan, lorong-lorong hotel yang terasa dingin, dan jalanan yang dipenuhi ketegangan tak kasat mata. Sinematografi menjaga tone yang muram, seolah-olah dunia yang ditampilkan sudah tahu bahwa kehancuran tinggal menunggu waktu.<br><br>Ritme film cenderung lambat, tapi konsisten. Tidak ada ledakan besar atau adegan aksi spektakuler, namun justru itu yang menjadi kekuatannya. Ketegangan dibangun dari dialog, tatapan, dan keputusan-keputusan kecil yang membawa konsekuensi besar. Film ini menuntut kesabaran, tapi memberikan imbalan berupa rasa cemas yang terus mengendap.<br><br>Kalau ada yang bisa dipertanyakan, mungkin terletak pada dramatisasi yang terasa sedikit “rapi”. Konflik personal dan politik kadang disederhanakan agar tetap fokus, sehingga beberapa lapisan kompleksitas sejarah terasa kurang tergali. Namun, pendekatan ini juga membuat film lebih mudah diikuti tanpa kehilangan bobot emosionalnya.<br><br><em>Munich – The Edge of War</em> adalah drama sejarah yang memilih jalan sunyi untuk menyampaikan ketegangannya. Ia tidak berteriak, tidak meledak-ledak, tapi perlahan menekan dari dalam. Film ini mengingatkan bahwa keputusan besar sering diambil oleh individu-individu yang sama rapuhnya dengan kita—dan bahwa niat baik tidak selalu cukup untuk mencegah bencana.<br>&nbsp;</p>
</div>



<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:20%">
<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained wp-container-6 is-position-sticky">
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="250" height="371" src="https://hobinonton.id/storage/2026/03/munich-the-edge-of-war-2025-poster.jpg" alt="" class="wp-image-4492" style="object-fit:cover" srcset="https://hobinonton.id/storage/2026/03/munich-the-edge-of-war-2025-poster.jpg 250w, https://hobinonton.id/storage/2026/03/munich-the-edge-of-war-2025-poster-202x300.jpg 202w" sizes="(max-width: 250px) 100vw, 250px" /></figure>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-e213d4d2 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-top:0px;margin-bottom:0px">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-87c3901c wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Pemeran Utama</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-pemeran wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/pemeran/august-diehl/" rel="tag">August Diehl</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/george-mackay/" rel="tag">George MacKay</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/jannis-niewohner/" rel="tag">Jannis Niewöhner</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/jeremy-irons/" rel="tag">Jeremy Irons</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/jessica-brown-findlay/" rel="tag">Jessica Brown Findlay</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/liv-lisa-fries/" rel="tag">Liv Lisa Fries</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/sandra-huller/" rel="tag">Sandra Hüller</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--4" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Sutradara</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-sutradara wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/sutradara/christian-schwochow/" rel="tag">Christian Schwochow</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--5" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Penulis</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-penuliscerita wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/robert-harris/" rel="tag">Robert Harris</a></div></div>
</div>
</div>



<div style="height:40px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/munich-the-edge-of-war-diplomasi-di-ujung-jurang/">Munich, The Edge of War: Diplomasi di Ujung Jurang</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hobinonton.id/ulasan-film/munich-the-edge-of-war-diplomasi-di-ujung-jurang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warfare: Ketika Ingatan Menjadi Medan Tempur</title>
		<link>https://hobinonton.id/ulasan-film/warfare-ketika-ingatan-menjadi-medan-tempur/</link>
					<comments>https://hobinonton.id/ulasan-film/warfare-ketika-ingatan-menjadi-medan-tempur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arya Wicaksana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2026 11:30:36 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">https://hobinonton.id/?post_type=ulasan-film&#038;p=4392</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berdasarkan pengalaman nyata Mendoza sebagai mantan Navy SEAL dalam pertempuran di Ramadi, Irak, pada tahun 2006, film ini menyajikan narasi yang intens dan realistis, menjauh..</p>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/warfare-ketika-ingatan-menjadi-medan-tempur/">Warfare: Ketika Ingatan Menjadi Medan Tempur</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-group is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-5da67cd9 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--x-small)">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-ab05b131 wp-block-column-is-layout-flow" style="padding-right:0;flex-basis:80%">
<div class="wp-block-essential-blocks-text  root-eb-text-a8npi"><div class="eb-parent-wrapper eb-parent-eb-text-a8npi "><div class="eb-text-wrapper eb-text-a8npi" data-id="eb-text-a8npi"><h3 class="eb-text">Film <em>Warfare</em> (2025) karya kolaboratif antara Alex Garland dan Ray Mendoza bukanlah sekadar film perang; ini adalah pengalaman sinematik yang mengguncang, menggambarkan kekacauan dan absurditas konflik bersenjata melalui lensa ingatan yang terdistorsi oleh trauma. </h3></div></div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan pengalaman nyata Mendoza sebagai mantan Navy SEAL dalam pertempuran di Ramadi, Irak, pada tahun 2006, film ini menyajikan narasi yang intens dan realistis, menjauh dari glorifikasi perang dan mendekat pada kenyataan pahit yang dialami para prajurit di medan tempur.<br><br>Kisah dimulai dengan sekelompok anggota Navy SEAL yang, bersama dua prajurit Marinir dan dua pemandu lokal Irak, menempati sebuah rumah sipil di Ramadi untuk misi pengintaian. Tanpa disadari, mereka terjebak dalam situasi berbahaya ketika lokasi mereka dikepung oleh pasukan al-Qaeda. Ketegangan meningkat seiring waktu, dengan komunikasi yang terputus dan bantuan yang tertunda, memaksa mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi yang semakin memburuk.<br><br>Film ini menolak struktur naratif tradisional, memilih untuk menyajikan peristiwa secara real-time tanpa latar belakang karakter yang mendalam atau penjelasan politis. Hal ini menciptakan atmosfer yang claustrophobic dan menegangkan, di mana penonton diajak merasakan kebingungan dan ketakutan yang dialami para prajurit. Adegan-adegan pertempuran disajikan dengan intensitas tinggi, memperlihatkan kekacauan dan keputusan-keputusan sulit yang harus diambil dalam hitungan detik.<br><br>Dalam salah satu adegan paling menggugah, seorang prajurit menyadari bahwa kakinya terbakar, namun suara ledakan dan tembakan membuatnya sulit untuk memahami situasi. Mendoza menjelaskan bahwa setiap suara dalam film ini dirancang dengan tujuan tertentu, &#8220;Setiap letusan, setiap suara peluru, memiliki tujuan. Kami tidak hanya menambahkan suara karena terdengar keren. Kami ingin penonton merasakan kebingungan dan ketegangan yang nyata dalam pertempuran.&#8221;<br><br>Proses pembuatan <em>Warfare</em> melibatkan pendekatan yang unik dan mendalam. Garland dan Mendoza mengumpulkan berbagai kesaksian dan foto dari peristiwa nyata untuk merekonstruksi kejadian dengan akurat. Garland menyatakan, &#8220;Ingatan adalah hal yang rumit. Dipengaruhi oleh waktu, stres, trauma, dan banyak faktor lainnya. Kami tahu bahwa kami tidak bisa mendapatkan 100% akurasi, tetapi kami berusaha setia pada ingatan para pelaku.”<br><br>Para aktor, termasuk Will Poulter, D&#8217;Pharaoh Woon-A-Tai, dan Charles Melton, menjalani pelatihan intensif selama tiga minggu untuk memahami taktik dan komunikasi militer. Melton menyebut pengalaman ini sebagai transformasi pribadi yang mendalam, &#8220;Kami belajar bergerak seperti SEAL, memahami terminologi, taktik militer, dan komunikasi. Itu adalah ekspresi simbolik untuk memulai dari nol.&#8221;<br><br><em>Warfare</em> tidak menawarkan jawaban mudah atau narasi heroik. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk merenungkan absurditas dan dampak psikologis dari perang. Dengan menghindari musik latar yang manipulatif dan fokus pada pengalaman sensorik, film ini menantang persepsi kita tentang konflik bersenjata dan menyoroti pertanyaan mendasar: Mengapa kita berperang? Dalam wawancara, Garland menyatakan, &#8220;Politisi yang mendorong perang seharusnya dirujuk ke rumah sakit jiwa. Perang adalah keadaan yang irasional.&#8221;<br><br>Di akhir film, tidak ada resolusi yang memuaskan atau pesan moral yang jelas. Hanya keheningan dan pertanyaan yang menggantung: Apa arti dari semua ini? <em>Warfare</em> bukan hanya film tentang perang; ini adalah cermin yang memantulkan kompleksitas ingatan, trauma, dan kemanusiaan dalam situasi ekstrem. Sebuah pengalaman yang menggugah dan meninggalkan jejak mendalam dalam benak penonton.<br>&nbsp;</p>
</div>



<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:20%">
<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained wp-container-9 is-position-sticky">
<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="287" height="421" src="https://hobinonton.id/storage/2025/05/warfare-2025-poster.jpg" alt="" class="wp-image-4359" style="object-fit:cover" srcset="https://hobinonton.id/storage/2025/05/warfare-2025-poster.jpg 287w, https://hobinonton.id/storage/2025/05/warfare-2025-poster-205x300.jpg 205w" sizes="(max-width: 287px) 100vw, 287px" /></figure>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-e213d4d2 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-top:0px;margin-bottom:0px">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-87c3901c wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Pemeran Utama</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-pemeran wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/pemeran/charles-melton/" rel="tag">Charles Melton</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/cosmo-jarvis/" rel="tag">Cosmo Jarvis</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/dpharaoh-woon-a-tai/" rel="tag">D&#8217;Pharaoh Woon-A-Tai</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/finn-bennett/" rel="tag">Finn Bennett</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/joseph-quinn/" rel="tag">Joseph Quinn</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/kit-connor/" rel="tag">Kit Connor</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/michael-gandolfini/" rel="tag">Michael Gandolfini</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/noah-centineo/" rel="tag">Noah Centineo</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/will-poulter/" rel="tag">Will Poulter</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--7" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Sutradara</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-sutradara wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/sutradara/alex-garland/" rel="tag">Alex Garland</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/sutradara/ray-mendoza/" rel="tag">Ray Mendoza</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--8" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Penulis</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-penuliscerita wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/alex-garland/" rel="tag">Alex Garland</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/ray-mendoza/" rel="tag">Ray Mendoza</a></div></div>
</div>
</div>



<div style="height:40px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/warfare-ketika-ingatan-menjadi-medan-tempur/">Warfare: Ketika Ingatan Menjadi Medan Tempur</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hobinonton.id/ulasan-film/warfare-ketika-ingatan-menjadi-medan-tempur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nr. 24: Perang Sunyi Geng Oslo Melawan Nazi</title>
		<link>https://hobinonton.id/ulasan-film/nr-24-perang-sunyi-geng-oslo-melawan-nazi/</link>
					<comments>https://hobinonton.id/ulasan-film/nr-24-perang-sunyi-geng-oslo-melawan-nazi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arya Wicaksana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2025 04:54:14 +0000</pubDate>
				<guid isPermaLink="false">https://hobinonton.id/?post_type=ulasan-film&#038;p=3945</guid>

					<description><![CDATA[<p>Disutradarai oleh John Andreas Andersen dan ditulis oleh Erlend Loe, film ini menghadirkan narasi yang menggugah tentang perjuangan, pengorbanan, dan strategi gerilya dalam salah satu..</p>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/nr-24-perang-sunyi-geng-oslo-melawan-nazi/">Nr. 24: Perang Sunyi Geng Oslo Melawan Nazi</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<div class="wp-block-group is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-5da67cd9 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--x-small)">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-ab05b131 wp-block-column-is-layout-flow" style="padding-right:0;flex-basis:80%">
<div class="wp-block-essential-blocks-text  root-eb-text-a8npi"><div class="eb-parent-wrapper eb-parent-eb-text-a8npi "><div class="eb-text-wrapper eb-text-a8npi" data-id="eb-text-a8npi"><h3 class="eb-text">Perang tidak hanya ditentukan oleh pertempuran besar di garis depan, tetapi juga oleh individu-individu yang berani melawan di balik bayang-bayang. <em>Nr. 24</em> (2024) mengangkat kisah salah satu pejuang perlawanan Norwegia yang paling berpengaruh, Gunnar Sønsteby, yang dikenal karena kecerdikan dan keberaniannya dalam menghadapi pendudukan Nazi. </h3></div></div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Disutradarai oleh John Andreas Andersen dan ditulis oleh Erlend Loe, film ini menghadirkan narasi yang menggugah tentang perjuangan, pengorbanan, dan strategi gerilya dalam salah satu periode tergelap sejarah Eropa. Film ini dibuka dengan adegan Gunnar Sønsteby tua (Erik Hivju) yang sedang memberikan ceramah kepada sekelompok siswa di kota kelahirannya, Rjukan. Ia mulai menceritakan pengalamannya selama Perang Dunia II, membawa penonton kembali ke masa ketika Norwegia diduduki oleh Nazi. Namun, ceramah tersebut mendapat gangguan ketika seorang pemuda mengajukan pertanyaan yang mengguncang hatinya: <em>&#8220;Bagaimana perasaan Anda tentang orang-orang yang dahulu berjuang di sisi lain?&#8221;</em> Ketika pemuda itu memperkenalkan dirinya, Gunnar terkejut mendengar nama belakangnya—nama yang tak pernah bisa ia lupakan. Ia adalah cucu dari seorang sahabat yang dulu berjuang bersamanya sebelum akhirnya berkhianat dan bekerja sama dengan Nazi.<br><br>Momen ini menjadi titik balik emosional dalam film, membawa penonton kembali ke masa lalu saat Gunnar Sønsteby muda (Sjur Vatne Brean) dan kelompoknya, &#8220;Oslo-gjengen,&#8221; menjalankan operasi sabotase melawan pendudukan Jerman. Melalui kilas balik yang intens, kita melihat bagaimana pengkhianatan sahabatnya terjadi. Sahabat yang dipercayainya, yang dulu berjuang di sisinya, akhirnya menyerahkan informasi kepada Gestapo demi keselamatan keluarganya sendiri. Keputusan itu menyebabkan hilangnya nyawa beberapa anggota kelompok mereka dan hampir menggagalkan rencana besar untuk meledakkan fasilitas militer Nazi.<br><br>Sepanjang film, penonton disajikan berbagai misi yang dilakukan oleh Geng Oslo, mulai dari penghancuran fasilitas penting milik Nazi hingga penyelundupan informasi vital ke sekutu. Setiap misi menggambarkan keberanian dan kecerdikan Gunnar serta rekan-rekannya dalam menghadapi ancaman yang terus-menerus. Meskipun menghadapi risiko tinggi, mereka tetap teguh dalam perjuangan mereka untuk kebebasan.<br><br>Selain ketegangan dalam pertempuran bawah tanah, film ini juga menyelami sisi manusiawi dari karakter utama. Hubungan Gunnar dengan Gudrun Collett (Lisa Loven Kongsli) menambah dimensi emosional yang mendalam. Konflik batin pun semakin terasa saat ia harus memilih antara kepentingan pribadi dan perjuangan untuk tanah airnya. Dilema yang dialami Gunnar bukan hanya tentang bertahan hidup dan berjuang, tetapi juga tentang pengkhianatan dan pengampunan.<br><br>Saat kembali ke masa kini, bertatapan dengan cucu sahabatnya, konflik batin yang terpendam selama puluhan tahun kembali menyeruak. Apakah ia harus menyimpan dendam atas tindakan yang telah merenggut nyawa banyak rekannya? Atau haruskah ia menerima kenyataan bahwa perang telah membuat manusia melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah mereka inginkan? Dalam salah satu adegan paling emosional, Gunnar tua berusaha mengucapkan sesuatu kepada pemuda itu, tetapi kata-kata terasa berat baginya. Dalam keheningan yang menyayat, ia hanya berkata, <em>&#8220;Setiap orang punya perang mereka sendiri.&#8221;</em><br><br>Unsur yang membuat <em>Nr. 24</em> begitu menarik adalah pendekatannya yang realistis dalam menggambarkan perlawanan Norwegia. Alih-alih menampilkan adegan pertempuran besar, film ini fokus pada operasi sabotase kecil namun signifikan yang dilakukan oleh Geng Oslo. Pendekatan ini memberikan pandangan yang lebih intim tentang perjuangan sehari-hari para pejuang perlawanan. Selain itu, penggunaan alur maju-mundur antara masa lalu dan masa kini memberikan kedalaman naratif. Ceramah Gunnar tua kepada para siswa tidak hanya berfungsi sebagai alat penceritaan, tetapi juga sebagai refleksi tentang bagaimana generasi muda memahami dan menghargai sejarah.<br><br>Dari segi teknis, sinematografi oleh Pål Ulvik Rokseth menampilkan lanskap Norwegia yang indah namun keras, mencerminkan suasana hati dan tantangan yang dihadapi oleh para pejuang perlawanan. Skor musik karya Kristoffer Lo menambah kedalaman emosional, meskipun beberapa penonton mungkin merasa pilihan musik tertentu kurang sesuai dengan era yang digambarkan. Pemilihan casting yang tepat juga memainkan peran kunci dalam keberhasilan film ini. Sjur Vatne Brean, meskipun belum banyak dikenal secara internasional, memberikan penampilan yang kuat dan autentik sebagai Gunnar muda. Lisa Loven Kongsli sebagai Gudrun Collett menambah dimensi emosional yang memperkaya narasi.<br><br><em>Nr. 24</em> memiliki potensi besar untuk mendapat pengakuan di berbagai festival film internasional. Penampilan para aktor, terutama Sjur Vatne Brean dan Erik Hivju, layak mendapatkan apresiasi atas kompleksitas karakter yang mereka bawakan. Selain itu, sinematografi dan skor musiknya juga patut dipertimbangkan untuk nominasi dalam kategori teknis.<br><br>Secara keseluruhan, <em>Nr. 24</em> bukan hanya film sejarah, tetapi juga sebuah eksplorasi tentang manusia, kesetiaan, dan harga yang harus dibayar dalam perang. Dengan memasukkan unsur konflik batin yang kuat, film ini tidak hanya menceritakan kisah seorang pahlawan, tetapi juga menunjukkan bahwa perang bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan juga tentang luka yang bertahan lama setelahnya. Bagi pecinta film sejarah yang menggali lebih dalam ke sisi psikologis dan emosional dari para tokohnya, <em>Nr. 24</em> menawarkan pengalaman yang berkesan dan menggugah.</p>
</div>



<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:20%">
<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained wp-container-12 is-position-sticky">
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="272" height="340" src="https://hobinonton.id/storage/2025/03/number-24-2024-poster.jpg" alt="" class="wp-image-3946" style="object-fit:cover" srcset="https://hobinonton.id/storage/2025/03/number-24-2024-poster.jpg 272w, https://hobinonton.id/storage/2025/03/number-24-2024-poster-240x300.jpg 240w" sizes="auto, (max-width: 272px) 100vw, 272px" /></figure>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-e213d4d2 wp-block-columns-is-layout-flex" style="margin-top:0px;margin-bottom:0px">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-87c3901c wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:100%">
<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Pemeran Utama</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-pemeran wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/pemeran/erik-hivju/" rel="tag">Erik Hivju</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/flo-fagerli/" rel="tag">Flo Fagerli</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/ines-hoysaeter-asserson/" rel="tag">Ines Høysæter Asserson</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/jacob-jensen/" rel="tag">Jacob Jensen</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/jakob-maanum-trulsen/" rel="tag">Jakob Maanum Trulsen</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/magnus-dugdale/" rel="tag">Magnus Dugdale</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/philip-helgar/" rel="tag">Philip Helgar</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/pemeran/sjur-vatne-brean/" rel="tag">Sjur Vatne Brean</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--10" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Sutradara</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-sutradara wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/sutradara/john-andreas-andersen/" rel="tag">John Andreas Andersen</a></div>


<hr class="wp-block-separator has-text-color has-alpha-channel-opacity has-background is-style-wide is-style-wide--11" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;background-color:#e7e7e7;color:#e7e7e7"/>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph" style="font-style:normal;font-weight:600">Penulis</p>


<div style="font-style:normal;font-weight:100" class="taxonomy-penuliscerita wp-block-post-terms"><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/christopher-grondahl/" rel="tag">Christopher Grøndahl</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/erlend-loe/" rel="tag">Erlend Loe</a><span class="wp-block-post-terms__separator">, </span><a href="https://hobinonton.id/penuliscerita/vibeke-idsoe/" rel="tag">Vibeke Idsøe</a></div></div>
</div>
</div>



<div style="height:40px" aria-hidden="true" class="wp-block-spacer"></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://hobinonton.id/ulasan-film/nr-24-perang-sunyi-geng-oslo-melawan-nazi/">Nr. 24: Perang Sunyi Geng Oslo Melawan Nazi</a> appeared first on <a href="https://hobinonton.id">hobinonton</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hobinonton.id/ulasan-film/nr-24-perang-sunyi-geng-oslo-melawan-nazi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
