Ulasan Film

Locked: Terjebak dalam Desain Kuasa

•
menit
•
•
menit
•
2–4 minutes

Ada jenis ketakutan yang tidak datang dari sosok menyeramkan, tapi dari perasaan terus diawasi tanpa tahu dari mana. Locked (2025) memanfaatkan premis sederhana—seorang pria terjebak di dalam mobil—lalu mengembangkannya menjadi teror psikologis yang terasa relevan jika dibaca lewat perspektif Michel Foucault, khususnya tentang relasi kuasa dan pengawasan.

Film ini mengikuti Eddie (Bill Skarsgård), seorang pria yang hidupnya sedang berada di titik rendah. Dalam kondisi terdesak, ia mencoba mencuri mobil mewah yang tampak kosong. Namun begitu masuk, pintu langsung terkunci otomatis. Sistem kendaraan tidak bisa dilawan, dan ia segera menyadari bahwa dirinya bukan sekadar terjebak—ia sedang diawasi.

Pemilik mobil, yang disuarakan oleh Anthony Hopkins, tidak muncul secara fisik. Ia hadir sebagai suara yang tenang, dingin, dan sepenuhnya mengontrol situasi. Ia bisa mengatur suhu, suara, bahkan kenyamanan dasar Eddie. Mobil tersebut berubah menjadi ruang disipliner—sebuah sistem tertutup yang mengontrol tubuh sekaligus pikiran.

Di sinilah perspektif Foucault terasa sangat relevan. Konsep panopticon yang ia bahas menggambarkan bagaimana kekuasaan bekerja lewat pengawasan yang tidak selalu terlihat, tapi selalu terasa. Eddie tidak pernah tahu kapan tepatnya ia diawasi, tapi kesadaran bahwa ia bisa diawasi kapan saja membuatnya mulai mengubah perilakunya sendiri.

Teror dalam Locked bukan hanya soal terkurung, tapi soal internalisasi kontrol. Eddie tidak hanya berusaha keluar, ia juga mulai “patuh” pada sistem yang menahannya. Ia berbicara, bertindak, bahkan berpikir dengan mempertimbangkan bagaimana reaksinya akan dinilai oleh sosok di luar sana. Kuasa tidak lagi dipaksakan secara fisik, tapi bekerja dari dalam.

Seiring waktu, ketegangan meningkat melalui tekanan mental yang terus mengikis. Setiap usaha melawan terasa sia-sia, bukan karena tidak mungkin, tapi karena sistemnya sudah dirancang untuk selalu selangkah lebih maju. Ini selaras dengan gagasan Foucault bahwa kekuasaan modern tidak selalu represif, tapi produktif—ia membentuk perilaku, bukan sekadar menghukum.

Relasi antara Eddie dan sang pengendali menjadi inti konflik. Sang antagonis tidak perlu hadir secara fisik untuk terasa dominan. Ia cukup menciptakan sistem yang membuat Eddie merasa kecil, terpantau, dan tidak punya ruang privat. Bahkan di ruang sekecil mobil, tidak ada tempat untuk benar-benar “sendiri”.

Bill Skarsgård membawa karakter Eddie dengan intensitas yang konsisten. Ekspresi panik, frustasi, hingga kelelahan mental terasa nyata, terutama saat ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia bukan hanya melawan situasi, tapi juga melawan efek psikologis dari pengawasan yang konstan.

Anthony Hopkins, meski hanya lewat suara, menghadirkan ancaman yang subtil tapi kuat. Nada bicaranya tidak meninggi, tidak emosional, justru seperti seseorang yang sedang menjalankan prosedur. Ini membuat karakternya terasa seperti perpanjangan dari sistem itu sendiri—bukan sekadar individu, tapi representasi dari kuasa yang impersonal.

Secara visual, ruang sempit dalam mobil memperkuat rasa klaustrofobia sekaligus isolasi. Kamera bergerak terbatas, sudut pandang sempit, dan pencahayaan yang menekan menciptakan atmosfer yang konsisten. Semua elemen ini mendukung satu hal: tidak ada jalan keluar, baik secara fisik maupun psikologis.

Ritmenya intens meski sesekali terasa repetitif. Namun repetisi ini justru memperkuat efek pengawasan itu sendiri—rutinitas yang menekan, siklus yang berulang, dan rasa bahwa setiap usaha sudah diprediksi sebelumnya.

Kalau ditarik lebih jauh, Locked bukan cuma soal bertahan hidup, tapi tentang bagaimana kekuasaan bekerja di era modern. Bukan lagi lewat kekerasan langsung, tapi lewat sistem yang mengawasi, mengatur, dan perlahan membentuk perilaku individu tanpa perlu selalu terlihat.

Locked adalah thriller minimalis yang terasa lebih tajam ketika dibaca lewat perspektif Michel Foucault. Ia tidak hanya membuat penonton merasa terjebak, tapi juga membuat kita sadar betapa tipisnya batas antara kebebasan dan kontrol di dunia yang semakin terhubung dan terpantau. Sebuah tontonan yang menekan, relevan, dan diam-diam mengganggu—karena mungkin, tanpa sadar, kita semua hidup di versi “mobil” kita masing-masing.
 

Anda Mungkin Suka