Ulasan Film

The Housemaid: Dikira Jadi ART, Ternyata…

•
menit
•
•
menit
•
4–6 minutes

Pekerjaan sebagai ART (asisten rumah tangga) biasanya terdengar sederhana. Bersih-bersih rumah, memasak, mengurus berbagai kebutuhan majikan, lalu pulang membawa gaji. Namun, pekerjaan Millie Calloway (Sydney Sweeney) ternyata jauh dari kata sederhana. Ia justru masuk ke sebuah rumah mewah yang kelihatannya sempurna dari luar, tetapi menyimpan hubungan keluarga yang kacau, rahasia gelap, dan seorang suami yang ternyata jauh lebih berbahaya daripada dugaan awal.

The Housemaid (2025) arahan Paul Feig memang punya premis yang gampang bikin penasaran. Millie sedang berusaha mendapatkan kesempatan kedua setelah masa lalu kriminal membuat hidupnya berantakan. Ia kemudian diterima sebagai ART yang tinggal di rumah keluarga Winchester, pasangan kaya yang hidup di rumah besar nan mewah. Nina Winchester (Amanda Seyfried) sebagai majikannya terlihat tidak stabil dan sering bersikap aneh, sementara suaminya, Andrew (Brandon Sklenar), justru tampil sebagai pria baik, perhatian, dan jauh lebih mudah disukai.

Sejak awal, hubungan Millie dan Nina terasa tidak nyaman. Nina sengaja memberikan aturan-aturan yang membingungkan, mempermalukan Millie, bahkan terkadang bersikap seperti sedang memainkan permainan psikologis. Situasinya makin rumit karena Andrew justru memperlakukan Millie dengan jauh lebih baik. Ia memberi perhatian, membuat Millie merasa dihargai, dan perlahan muncul ketertarikan di antara keduanya. Ketika Millie dan Andrew akhirnya berselingkuh, posisi Nina semakin mudah dilihat sebagai sumber masalah. Film sengaja menggiring penonton untuk percaya bahwa perempuan inilah yang sebenarnya berbahaya.

Masalahnya, semua dugaan tersebut ternyata tidak sesederhana itu. Setelah Nina tersingkir dari rumah dan Andrew memilih Millie, sisi asli Andrew mulai terlihat. Millie justru dikurung di loteng dan mengalami perlakuan mengerikan. Perlahan terungkap bahwa Nina selama ini bukan sekadar perempuan kaya yang tidak stabil secara mental. Ia ternyata menjadi korban kekerasan dan manipulasi Andrew. Perekrutan Millie sebagai ART pun bukan kebetulan. Nina mengetahui masa lalu Millie dan berharap perempuan tersebut bisa menjadi jalan keluar dari rumah tangganya yang mengerikan.

Rahasia terbesar kemudian terbuka ketika Millie menyadari bahwa Andrew telah menggunakan rumah mereka sebagai tempat untuk mengontrol dan menghukum Nina. Selama ini, citra Andrew sebagai suami sempurna hanyalah kedok. Millie akhirnya melawan dan menggunakan situasi yang ada untuk membalik keadaan. Konflik memuncak ketika Andrew mencoba kembali menguasai Nina dan Millie. Pertarungan mereka berakhir dengan kematian Andrew, sementara Nina dan Millie bekerja sama menutupi kejadian tersebut sebagai kecelakaan. Millie akhirnya meninggalkan rumah Winchester, tetapi pengalaman itu jelas mengubah cara pandangnya terhadap orang-orang yang terlihat sempurna dari luar.

Hal paling menarik dari The Housemaid adalah bagaimana film ini memainkan prasangka penonton. Nina dibuat menyebalkan sejak awal sehingga mudah sekali untuk dicurigai. Amanda Seyfried benar-benar menikmati karakter tersebut. Ia bisa terlihat glamor dan elegan dalam satu adegan, lalu berubah menjadi sosok yang bikin tidak nyaman beberapa detik kemudian. Tingkah Nina yang tidak konsisten membuat penonton terus bertanya apakah ia memang manipulatif atau sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu.

Sydney Sweeney juga memberikan daya tarik yang pas sebagai Millie. Karakternya bukan korban yang sepenuhnya pasif. Masa lalunya sebagai mantan narapidana membuat Millie punya sisi keras yang baru terlihat ketika ia berada dalam situasi berbahaya. Ini membuat perjalanan karakternya terasa lebih menarik. Penonton tidak hanya menunggu Millie diselamatkan, tetapi juga penasaran kapan ia akan berhenti bertahan dan mulai melawan.

Brandon Sklenar pun berhasil memanfaatkan perubahan karakter Andrew. Ia harus terlihat cukup hangat agar penonton percaya bahwa Andrew mungkin adalah satu-satunya orang normal di rumah tersebut. Justru karena itulah perubahan karakternya bekerja. Ketika wajah asli Andrew mulai muncul, sosoknya terasa jauh lebih mengerikan karena penonton sebelumnya sudah diajak percaya bahwa ia adalah pria yang baik.

Film ini juga punya kesenangan tersendiri karena tidak terlalu malu menjadi thriller yang berlebihan. Rumah mewah, perselingkuhan, hubungan penuh manipulasi, karakter kaya dengan rahasia, kekerasan, dan twist datang silih berganti. Ada sensasi guilty pleasure yang cukup kuat. The Housemaid tidak selalu ingin terlihat sebagai thriller psikologis yang super serius. Film ini lebih tertarik membuat penonton terus penasaran dengan pertanyaan, “Setelah ini bakal ada masalah apa lagi?”

Kalau dibandingkan dengan Gone Girl, The Housemaid sama-sama menjadikan hubungan rumah tangga sebagai arena permainan psikologis. Keduanya juga senang membuat penonton mengubah penilaian terhadap karakter setelah informasi baru terungkap. Bedanya, Gone Girl jauh lebih dingin, tajam, dan terkontrol. The Housemaid justru lebih liar dan melodramatis. Film ini tidak takut mengambil keputusan cerita yang terasa semakin ekstrem.

Perbandingan dengan A Simple Favor juga menarik karena keduanya sama-sama disutradarai Paul Feig dan sama-sama menggunakan karakter perempuan, keluarga kaya, rahasia, seksualitas, serta kemewahan sebagai bagian dari permainan ceritanya. Bedanya, A Simple Favor terasa lebih ringan dan penuh humor gelap, sedangkan The Housemaid membawa sisi thriller dan kekerasannya lebih jauh. Ada gaya pulpy thriller yang membuat film ini terasa seperti tontonan yang memang dibuat untuk dinikmati tanpa terlalu banyak mikir soal logika.

Tetap saja, film ini bukan tanpa masalah. Setelah rahasia utama terungkap, beberapa perkembangan cerita terasa terlalu mudah ditebak. Ada pula keputusan karakter yang kadang terasa dibuat hanya supaya konflik bisa terus berjalan. Film yang sejak awal cukup efektif membangun misteri akhirnya lebih mengandalkan ledakan konflik dan twist daripada pendalaman psikologis. Kalau kamu mengharapkan thriller sekelas Gone Girl yang setiap detailnya terasa diperhitungkan, The Housemaid mungkin akan terasa lebih ringan.

Namun, justru sebagai hiburan, formula tersebut cukup efektif. Film ini punya tiga aktor utama yang menarik, karakter-karakter yang gampang bikin emosi, rumah mewah yang berubah menjadi tempat mengerikan, serta permainan perspektif yang membuat penonton terus menebak-nebak. Sydney Sweeney juga mendapatkan karakter yang memungkinkan dirinya tampil lebih tangguh daripada sekadar menjadi korban dalam cerita thriller.

The Housemaid memang bukan thriller psikologis yang paling rapi, tetapi film ini tahu cara membuat penonton bertahan sampai akhir. Premis ART yang masuk ke rumah keluarga kaya kemudian menemukan rahasia mengerikan memang bukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi eksekusinya cukup seru untuk membuat formula lama terasa menghibur lagi. Kalau kamu suka Gone Girl, A Simple Favor, atau thriller domestik yang penuh perselingkuhan, manipulasi, dan twist, rumah keluarga Winchester layak dimasuki. Hanya saja, setelah menontonnya, pekerjaan sebagai ART di rumah mewah mungkin tidak akan terdengar sesederhana sebelumnya.