Melalui The Long Walk (2025), Francis Lawrence merakit sebuah distopia yang terasa sunyi sekaligus kejam, di mana harapan hidup direduksi menjadi sekadar kemampuan untuk terus melangkah. Diadaptasi dari novel karya Stephen King (dengan nama samaran Richard Bachman), film ini membawa premis sederhana yang mengerikan: seratus remaja laki-laki berjalan tanpa henti, dan hanya satu yang akan bertahan hidup. Sisanya akan gugur, satu per satu, bukan karena ledakan dramatis, melainkan karena tubuh yang tak lagi mampu menuruti perintah.
Cerita mengikuti Ray Garraty (Cooper Hoffman), seorang remaja yang tampak biasa saja, tanpa latar belakang heroik atau ambisi besar. Ia bergabung dalam “The Long Walk” bukan untuk menjadi pemenang, tetapi lebih karena dorongan samar yang bahkan sulit ia jelaskan sendiri. Di sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan peserta lain—McVries, Stebbins, dan beberapa nama yang perlahan berubah dari sekadar pesaing menjadi teman seperjalanan. Relasi mereka menjadi inti emosional film ini: rapuh, sementara, namun justru terasa paling manusiawi di tengah sistem yang tidak manusiawi.
Alih-alih mengandalkan spektakel khas distopia modern, film ini memilih ritme yang lebih lambat dan repetitif. Langkah demi langkah menjadi struktur naratifnya. Tidak ada arena megah atau permainan penuh strategi seperti dalam The Hunger Games; yang ada hanyalah jalan panjang, sepatu yang aus, dan ancaman konstan berupa tembakan bagi siapa pun yang berhenti terlalu lama. Dari situ, ketegangan lahir bukan dari kejutan, melainkan dari kepastian yang tak terhindarkan.
Kengerian film ini terletak pada banalitasnya. Kematian tidak diperlakukan sebagai klimaks, melainkan sebagai konsekuensi administratif. Seorang peserta melambat, mendapat peringatan, lalu—jika gagal memperbaiki langkah—dihapus begitu saja. Tidak ada musik yang membesar, tidak ada jeda emosional yang cukup untuk berkabung. Dunia di sekitar mereka terus berjalan, seolah kekerasan itu adalah bagian wajar dari tatanan sosial.
Dari sini, film mulai membuka lapisan kritik yang lebih tajam. “The Long Walk” dapat dibaca sebagai alegori ekstrem tentang logika kapitalisme kompetitif, di mana individu dipaksa terus bergerak agar tetap “layak” hidup. Mereka yang melambat—karena lelah, sakit, atau sekadar manusiawi—akan tersingkir tanpa ampun. Tidak ada ruang untuk solidaritas yang benar-benar utuh, karena sistem sejak awal dirancang untuk memastikan semua orang pada akhirnya menjadi lawan bagi satu sama lain. Dalam konteks ini, para peserta bukan sekadar korban, tetapi juga subjek yang secara perlahan menginternalisasi aturan permainan yang mematikan mereka.
Seiring jumlah peserta menyusut, hubungan antar karakter menjadi semakin intens sekaligus menyakitkan. Garraty dan McVries, misalnya, membangun kedekatan yang terasa tulus, tetapi selalu dibayangi oleh kesadaran bahwa hanya satu dari mereka yang akan selamat. Persahabatan di sini bukan pelipur lara, melainkan ironi yang perlahan menggerogoti. Semakin dekat mereka, semakin besar pula beban yang harus ditanggung ketika salah satu akhirnya tumbang.
Di titik ini, pendekatan film juga bisa dibaca melalui lensa kekuasaan ala Michel Foucault. Kekerasan tidak hanya hadir melalui tembakan, tetapi juga melalui disiplin yang terus-menerus diawasi. Tubuh para peserta diatur oleh kecepatan minimum, oleh sistem peringatan, oleh tatapan konstan dari otoritas. Mereka tidak perlu dirantai atau dipenjara; cukup dengan aturan dan pengawasan, tubuh-tubuh itu sudah menjadi patuh dengan sendirinya. Kekuasaan bekerja secara halus namun total, membentuk perilaku hingga para peserta secara sukarela melanjutkan langkah mereka menuju kehancuran.
Sosok Mayor—figur otoritas yang mengawasi jalannya kompetisi—hadir sebagai representasi kekuasaan yang dingin dan tak tergoyahkan. Ia tidak perlu berteriak atau menunjukkan emosi berlebihan; justru ketenangannya yang membuat segalanya terasa lebih mengancam. Sistem yang ia wakili tidak memberi ruang untuk negosiasi atau empati. Aturan adalah aturan, dan tubuh manusia hanyalah variabel yang bisa dihapus kapan saja.
Secara visual, film ini memanfaatkan lanskap jalan raya yang monoton untuk menciptakan rasa keterasingan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, tidak ada tujuan yang benar-benar jelas selain terus maju. Kamera sering kali bertahan pada wajah-wajah lelah para peserta, menangkap perubahan kecil—keringat, tatapan kosong, langkah yang mulai goyah—yang perlahan menandai batas antara hidup dan mati.
Penampilan Cooper Hoffman sebagai Garraty terasa understated namun efektif. Ia tidak memainkan karakter ini sebagai pahlawan, melainkan sebagai remaja yang perlahan menyadari absurditas situasi yang ia jalani. Di sisi lain, dinamika dengan karakter seperti McVries memberikan ruang bagi film untuk bernapas, menghadirkan momen-momen kehangatan yang justru terasa lebih menyakitkan karena kita tahu semuanya akan berakhir.
Yang membuat The Long Walk begitu mengguncang bukan sekadar premisnya yang brutal, tetapi kesadarannya terhadap mekanisme kekuasaan yang lebih luas. Film ini seperti mengingatkan bahwa kekerasan paling efektif bukanlah yang paling bising, melainkan yang sudah dianggap normal. Tidak ada pemberontakan besar, tidak ada upaya serius untuk meruntuhkan sistem—yang ada hanyalah individu-individu yang terus berjalan, bahkan ketika mereka tahu arah akhirnya adalah kematian.
Ketika layar akhirnya meredup, yang tertinggal bukan hanya gambaran tentang kompetisi mematikan, tetapi juga pertanyaan yang lebih mengganggu: sejauh mana manusia bersedia beradaptasi dengan sistem yang jelas-jelas merugikan mereka? Film ini tidak menawarkan jawaban yang menenangkan. Ia hanya menyisakan jejak langkah yang terus terngiang—ritmis, melelahkan, dan perlahan menghapus batas antara bertahan hidup dan menyerah begitu saja.

Pemeran Utama
Sutradara
Penulis





