Ulasan Film

The Mastermind: Cara Gagal dengan Percaya Diri Tinggi

•
menit
•
•
menit
•
3–4 minutes

Tidak semua kejahatan lahir dari kecerdikan: sebagian justru tumbuh dari kepercayaan diri yang tidak pernah diuji. The Mastermind (2025) karya Kelly Reichardt berdiri tepat di wilayah itu—sebuah potret tentang bagaimana rencana besar bisa terdengar meyakinkan hanya karena diucapkan dengan penuh keyakinan. Alih-alih memuja sosok kriminal jenius, film ini seperti dengan sengaja meruntuhkan mitos tersebut, pelan-pelan, nyaris tanpa suara.

Berlatar Amerika era 1970-an, cerita mengikuti JB Mooney (Josh O’Connor), seorang pria yang tampak seperti versi gagal dari sosok jenius kriminal yang sering kita lihat di film-film populer. Ia bukan mastermind dalam arti yang mengintimidasi, melainkan seseorang yang kebetulan punya rencana—dan terlalu yakin bahwa rencana itu brilian. Bersama sekelompok orang yang bahkan tidak sepenuhnya kompeten, ia mencoba merancang pencurian karya seni yang “sempurna”.

Sedikit mundur, karier O’Connor sendiri cukup menarik untuk dilihat. Ia dikenal luas lewat perannya sebagai Pangeran Charles dalam The Crown, menghadirkan figur bangsawan yang rapuh, canggung, dan penuh konflik batin. Ia juga mencuri perhatian dalam film seperti God’s Own Country, di mana ia memainkan karakter yang jauh lebih emosional dan tertahan. Di The Mastermind, kualitas itu tetap ada—hanya saja kali ini diarahkan ke sosok yang merasa lebih pintar dari semua orang, padahal justru sebaliknya.

Relasi antar karakter menjadi pusat gravitasi film ini, bukan karena kedalamannya, tetapi karena absurditasnya. Tidak ada yang benar-benar memimpin, tidak ada yang benar-benar mengikuti. Semua orang seolah berjalan dengan keyakinan masing-masing, menciptakan harmoni yang ganjil sekaligus kacau. Alih-alih membangun ketegangan ala film perampokan klasik, Reichardt memilih memperlihatkan bagaimana rencana “besar” bisa runtuh bahkan sebelum benar-benar diuji.

Pendekatan ini terasa seperti sindiran halus terhadap glorifikasi sosok jenius kriminal dalam budaya populer. Jika biasanya kita disuguhi karakter ala Sherlock Holmes atau dalang perampokan super presisi seperti dalam Ocean’s Eleven, The Mastermind justru menghadirkan kebalikannya: seseorang yang percaya dirinya berada di level itu, tanpa benar-benar memiliki kapasitasnya.

Kekerasan, jika pun hadir, terasa datar dan canggung. Tidak ada koreografi aksi yang memukau, tidak ada momen klimaks yang membuat penonton menahan napas. Semua berlangsung dengan rasa “biasa saja” yang disengaja, seolah film ini ingin berkata: mungkin kejahatan terbesar bukanlah aksi itu sendiri, melainkan keyakinan bahwa kita bisa melakukannya dengan sempurna.

Di titik ini, film mulai terasa seperti satire terhadap ilusi meritokrasi. Mooney percaya bahwa kecerdikan dan keberanian sudah cukup untuk menaklukkan sistem. Ia lupa bahwa sistem sering kali tidak runtuh oleh rencana brilian, tetapi justru oleh kebetulan, kesalahan kecil, atau ketidakmampuan manusia untuk konsisten. Kegagalannya bukan tragedi besar, melainkan akumulasi dari hal-hal sepele yang diabaikan.

Kamera Reichardt tetap setia pada gaya minimalisnya—mengamati, tidak menghakimi, tetapi juga tidak memberi ruang bagi romantisasi. Wajah Mooney sering kali menjadi fokus: penuh keyakinan di awal, lalu perlahan retak ketika realitas tidak berjalan sesuai skenario di kepalanya. Tidak ada transformasi dramatis, hanya erosi perlahan terhadap rasa percaya diri yang sejak awal sudah terlalu tinggi.

Penampilan Josh O’Connor menjadi kekuatan utama film ini. Ia memainkan Mooney dengan keseimbangan yang menarik antara percaya diri dan kebodohan yang tidak disadari. Ia tidak pernah benar-benar menjadi karismatik, tetapi justru di situlah daya tariknya. Kita tidak mengaguminya, tetapi juga sulit untuk sepenuhnya menertawakannya—karena ada bagian kecil dari dirinya yang terasa sangat manusiawi.

Yang membuat The Mastermind terasa menggigit bukanlah ceritanya, melainkan cara ia membongkar fantasi tentang kecerdasan itu sendiri. Film ini seperti mengajak penonton untuk bertanya: seberapa sering kita menganggap diri kita lebih pintar dari yang sebenarnya? Dan berapa banyak keputusan buruk lahir dari keyakinan itu?

Ketika cerita mendekati akhir, tidak ada ledakan besar atau penyelesaian yang memuaskan. Yang tersisa justru rasa canggung—sebuah kesadaran bahwa semua ini mungkin tidak pernah secerdas yang dibayangkan sejak awal. Alih-alih menghadirkan kisah kriminal yang memukau, The Mastermind memilih menjadi cermin yang sedikit mengejek.

Dan mungkin, di situlah letak kejujurannya yang paling tajam: bahwa di dunia yang penuh dengan orang-orang yang ingin terlihat jenius, sering kali yang kita saksikan hanyalah kumpulan manusia biasa yang kebetulan terlalu percaya diri.