Ulasan Film

Whistle: Jangan Tiup Peluit Ini Kalau Nggak Siap

•
menit
•
•
menit
•
2–3 minutes

Kalau suka film horor yang premisnya simpel tapi bikin penasaran, Whistle (2025) bisa masuk daftar tontonan. Disutradarai oleh Corin Hardy, film ini mengangkat mitos tentang Aztec Death Whistle, sebuah peluit kuno yang konon bisa memanggil kematian pemiliknya.

Dibintangi Dafne Keen sebagai Chrys, film ini langsung melempar penonton ke suasana sekolah yang penuh misteri sebelum berubah menjadi mimpi buruk yang nggak ada remnya. Cerita dimulai setelah seorang atlet sekolah tewas secara mengerikan. Beberapa bulan kemudian, murid baru bernama Chrys menempati loker milik korban dan menemukan sebuah peluit berbentuk tengkorak. Awalnya benda itu cuma dianggap barang antik biasa, sampai akhirnya ada yang meniupnya. Sejak saat itu, satu per satu orang yang mendengar suara peluit mulai diteror sosok menyeramkan yang ternyata adalah wujud kematian mereka sendiri.

Teror makin menjadi ketika kelompok siswa yang terlibat mencoba mencari tahu asal-usul peluit tersebut. Mereka akhirnya mengetahui bahwa peluit itu bukan memanggil arwah, melainkan “kematian masing-masing”. Berbagai cara dilakukan untuk memutus kutukan, tetapi setiap usaha justru berujung pada kematian yang semakin brutal dan kreatif. Ketegangannya terus naik karena penonton dibuat bertanya-tanya siapa yang bakal selamat dan siapa yang menjadi korban berikutnya.

Menjelang akhir film, Chrys dan Ellie menemukan cara ekstrem untuk mengakali kutukan dengan membuat Chrys mengalami kematian sementara. Rencana itu hampir gagal karena muncul berbagai gangguan dan pengorbanan dari teman-teman mereka. Pada akhirnya Chrys berhasil hidup kembali, kutukan berpindah ke orang lain, dan ia selamat bersama Ellie. Namun, film menutup cerita dengan adegan peluit kembali ditemukan oleh siswa baru, memberi sinyal bahwa teror ini belum benar-benar berakhir.

Adegan penutup itu menjadi penegas bahwa kutukan peluit terus berulang, sehingga siapa pun yang menemukannya berpotensi menjadi korban berikutnya. Akhir seperti ini memang terasa khas film horor modern yang sengaja membuka peluang sekuel. Meski konfliknya selesai untuk tokoh utama, rasa waswas tetap tertinggal karena ancamannya belum benar-benar lenyap.

Kekuatan terbesar Whistle ada pada konsep kutukannya yang unik dan adegan-adegan kematian yang cukup kreatif. Memang alurnya mengingatkan pada Final Destination dengan konsep “kematian yang mengejar korban”, sementara atmosfer supranaturalnya punya nuansa seperti Talk to Me. Bedanya, Whistle mencoba memberi sentuhan emosional lewat hubungan antar karakternya sehingga penonton punya alasan untuk peduli pada nasib mereka, meski beberapa bagian cerita masih terasa cukup mudah ditebak.

Whistle (2025) bukan film horor yang benar-benar mengubah genre, tetapi tetap sukses menyajikan tontonan yang seru, menegangkan, dan penuh adegan kematian yang bikin meringis. Kalau mencari horor dengan konsep kutukan yang menarik, visual yang cukup mengesankan, dan akhir yang menggantung, film ini layak dicoba. Nilai pribadi: 7,5/10.