Film-Film Ini Punya Potensi, Tapi Malah Terjebak Klise: Nomor 2 Setuju?

•

•

8 minutes

Klise sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis membuat film jadi buruk. Hampir semua cerita memakai pola yang sudah pernah kita lihat. Masalahnya muncul ketika pola tersebut dipakai begitu saja tanpa ada usaha untuk memberikan sesuatu yang baru.

Kita mungkin sudah bisa menebak siapa yang akan berkhianat, siapa yang ternyata jahat, karakter mana yang bakal mati, sampai bagaimana film akan berakhir. Bahkan sebelum konflik benar-benar dimulai, rasanya kita sudah hafal jalurnya. Nah, beberapa film berikut cukup terasa seperti itu. Premisnya menarik, produksinya serius, bahkan beberapa punya aktor besar, tetapi akhirnya tersandung oleh cerita yang terlalu familiar.

10. The 5th Wave (2016)

The 5th Wave punya premis yang sebenarnya cukup menjanjikan. Bumi diserang oleh makhluk asing melalui beberapa gelombang bencana, sementara manusia harus bertahan hidup di tengah kekacauan. Ada invasi alien, dunia pasca-apokaliptik, remaja yang terpisah dari keluarganya, sampai konspirasi militer.

Sayangnya, semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa film ini mengikuti formula film remaja distopia yang sudah sangat dikenal. Karakter utamanya harus bertahan hidup, bertemu orang baru, muncul hubungan romantis, lalu perlahan menyadari bahwa orang yang dipercaya belum tentu benar-benar bisa dipercaya.

Masalahnya bukan karena elemen-elemen tersebut pernah digunakan. Masalahnya, The 5th Wave tidak cukup kuat untuk membuat formula itu terasa berbeda. Potensi cerita tentang invasi alien yang memanfaatkan manusia sebagai senjata akhirnya terasa seperti kombinasi beberapa film lain yang sudah lebih dulu melakukannya.

9. The Darkest Minds (2018)

The Darkest Minds juga punya masalah yang kurang lebih sama. Premisnya cukup menarik: anak-anak dan remaja mendapatkan kemampuan khusus setelah sebuah wabah misterius, kemudian pemerintah menganggap mereka sebagai ancaman dan menempatkan mereka di kamp-kamp khusus.

Kedengarannya seperti awal dari film distopia yang seru. Sayangnya, karakter dan konfliknya terasa terlalu familiar. Ada kelompok anak muda yang melarikan diri, perjalanan menuju tempat aman, persahabatan, konflik dengan pemerintah, dan tentu saja hubungan romantis yang ikut mengambil ruang.

Film ini seperti punya semua bahan untuk menjadi cerita distopia yang menarik, tetapi terlalu sibuk mengikuti resep yang sudah dikenal. Bukannya membuat kita penasaran dengan dunia yang diciptakannya, film justru membuat kita menebak apa yang akan terjadi berikutnya.

8. Geostorm (2017)

Geostorm sebenarnya punya satu ide yang sulit untuk tidak membuat penasaran: bagaimana kalau manusia menciptakan sistem satelit untuk mengendalikan cuaca, lalu sistem tersebut justru digunakan untuk menghancurkan dunia?

Bencana alamnya bisa dibuat spektakuler. Kota membeku, badai menghantam berbagai negara, temperatur berubah secara ekstrem. Secara konsep, ini jelas punya bahan untuk menjadi film popcorn yang menyenangkan.

Tetapi masalahnya ada pada cerita di balik semua kehancuran tersebut. Konspirasi pemerintah, pengkhianatan, saudara yang punya hubungan rumit, pejabat yang ternyata menyimpan agenda rahasia, sampai karakter yang harus menyelamatkan dunia dalam hitungan waktu. Semuanya terasa seperti checklist film bencana.

Akibatnya, kita lebih sering menunggu adegan kehancuran berikutnya daripada benar-benar peduli dengan konflik manusianya.

7. The Meg (2018)

The Meg menjual satu hal yang sangat sederhana: hiu raksasa melawan manusia. Tidak perlu terlalu rumit sebenarnya. Premis seperti ini justru bisa bekerja kalau film tahu bagaimana bersenang-senang dengannya.

Masalahnya, The Meg terlalu sering kembali ke formula film monster yang sudah akrab. Ada ilmuwan atau ahli yang dianggap aneh, organisasi besar dengan kepentingan sendiri, anggota tim yang harus diselamatkan, karakter yang akhirnya melakukan pengorbanan, dan tentu saja monster yang terus muncul pada saat yang paling mudah ditebak.

Padahal, dengan hiu purba sebesar itu, film sebenarnya tidak perlu terlalu banyak formula. Biarkan saja monsternya menjadi pusat kekacauan. Namun The Meg beberapa kali terasa terlalu aman untuk ukuran film tentang hiu raksasa.

6. Morbius (2022)

Morbius punya karakter utama yang sebenarnya menarik. Michael Morbius adalah ilmuwan yang mencoba menyembuhkan penyakit darah langka menggunakan eksperimen yang kemudian mengubah dirinya menjadi makhluk seperti vampir.

Potensinya besar karena konflik Morbius bukan sekadar melawan penjahat. Ia juga harus berhadapan dengan konsekuensi eksperimennya sendiri. Sayangnya, film tidak benar-benar memaksimalkan sisi tersebut.

Kita kembali mendapatkan formula superhero yang sangat familiar: eksperimen gagal, kekuatan baru, karakter utama kesulitan mengendalikan dirinya, muncul sosok yang punya kekuatan serupa, lalu keduanya harus berhadapan. Hubungan antara Morbius dan Milo bahkan terasa seperti pola klasik dua sahabat yang akhirnya berada di sisi berlawanan.

Hasilnya terasa aman, padahal karakter seperti Morbius sebenarnya bisa membawa film ke arah yang jauh lebih gelap dan aneh.

5. Jupiter Ascending (2015)

Jupiter Ascending adalah contoh menarik karena masalahnya bukan kekurangan imajinasi. Justru sebaliknya, film ini punya dunia yang sangat besar.

Ada kerajaan antargalaksi, keluarga penguasa planet, manusia yang ternyata memiliki posisi penting dalam sistem kosmik, makhluk asing, teknologi canggih, dan konflik perebutan kekuasaan. Secara visual, film ini jelas punya identitas.

Namun ceritanya terlalu sering kembali pada formula yang sudah dikenal. Karakter utama yang awalnya bukan siapa-siapa ternyata memiliki garis keturunan penting. Ada tokoh misterius yang datang untuk melindunginya. Muncul kekuatan besar yang ingin memanfaatkannya. Lalu semuanya bergerak menuju konflik antarkeluarga dan penyelamatan dunia.

Rasanya seperti film yang punya dunia sebesar galaksi, tetapi menggunakan struktur cerita yang terlalu kecil untuk menampungnya.

4. Passengers (2016)

Passengers mungkin merupakan contoh paling menarik dalam daftar ini karena premisnya sebenarnya sangat kuat.

Sebuah pesawat luar angkasa membawa ribuan manusia menuju planet baru. Perjalanan berlangsung selama puluhan tahun, sehingga seluruh penumpang dibuat tidur secara artifisial. Masalahnya, Jim terbangun terlalu cepat. Ia sendirian di kapal yang masih punya waktu puluhan tahun sebelum tiba di tujuan.

Konsep kesepian di luar angkasa seperti ini bisa menghasilkan film yang sangat psikologis. Namun ketika Aurora ikut terbangun dan hubungan keduanya menjadi pusat cerita, film mulai masuk ke pola romansa yang cukup familiar.

Potensi konfliknya sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar hubungan mereka. Bagaimana seseorang menghadapi kesendirian selama puluhan tahun? Apa yang terjadi ketika satu keputusan egois mengubah hidup orang lain? Seberapa jauh seseorang bisa memaafkan orang yang mengambil pilihan tersebut?

Film memang menyentuh beberapa pertanyaan itu, tetapi tidak selalu berani menggalinya sampai tuntas. Akhirnya, film yang seharusnya terasa seperti thriller psikologis di luar angkasa justru beberapa kali berubah menjadi kisah romansa dengan latar futuristik.

3. The Tomorrow War (2021)

The Tomorrow War punya premis yang terdengar seperti mimpi bagi penggemar film aksi. Manusia dari masa depan datang ke masa sekarang untuk meminta bantuan karena perang melawan makhluk asing akan menghancurkan umat manusia.

Orang-orang dari masa kini kemudian dikirim ke masa depan untuk ikut berperang.

Premis seperti ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat film berjalan. Namun The Tomorrow War kemudian memasukkan hampir semua formula film aksi keluarga: ayah yang renggang dengan anak, hubungan keluarga yang harus diperbaiki, karakter utama yang awalnya tidak dianggap penting, misi penyelamatan, pengorbanan, serta ancaman besar yang harus dihentikan sebelum semuanya terlambat.

Bukan berarti formula tersebut tidak boleh digunakan. Hanya saja, ketika digabungkan dengan konsep perjalanan waktu dan perang masa depan, film terasa seperti punya ide yang jauh lebih menarik daripada cerita yang akhirnya dipilih.

2. Red Notice (2021)

Red Notice sebenarnya tidak pernah berpura-pura ingin menjadi film yang terlalu serius. Film ini memang dibuat untuk menjadi tontonan aksi-komedi yang ringan.

Masalahnya, justru karena ingin mengikuti formula film heist populer, hampir semuanya terasa bisa ditebak. Ada pencuri ulung, agen yang mengejar, pencuri lain yang ternyata lebih pintar, kerja sama yang tidak terduga, pengkhianatan, identitas yang disembunyikan, lalu twist menjelang akhir.

Dwayne Johnson, Ryan Reynolds, dan Gal Gadot punya daya tarik masing-masing, sehingga interaksi mereka cukup menghibur. Tetapi kalau semua bintang tersebut dilepas dari formula cerita yang sudah sangat familiar, mungkin filmnya bisa terasa jauh lebih segar.

Red Notice akhirnya lebih mengandalkan pesona pemain dan kemasan daripada kejutan ceritanya.

1. The Gray Man (2022)

The Gray Man punya semua komponen untuk menjadi film aksi besar: Ryan Gosling sebagai agen rahasia, Chris Evans sebagai pembunuh bayaran, organisasi rahasia, kejar-kejaran internasional, dan adegan aksi dengan skala besar.

Tetapi semakin lama, semakin terasa bahwa film ini seperti sedang memainkan kembali formula film mata-mata yang sudah kita lihat berkali-kali.

Agen yang diburu organisasi sendiri? Ada. Atasan yang ternyata tidak bisa dipercaya? Ada. Pembunuh bayaran dengan gaya nyentrik? Ada. Karakter yang harus dilindungi? Ada. Kejar-kejaran dari satu kota ke kota lain? Tentu saja ada.

Aksinya memang cukup menghibur, tetapi cerita terasa seperti kendaraan untuk berpindah dari satu adegan ledakan ke adegan berikutnya. Padahal, dengan karakter dan pemain seperti ini, The Gray Man sebenarnya bisa menawarkan sesuatu yang lebih berkesan.

Film dengan formula klise sebenarnya tidak selalu berarti film yang buruk. The Meg, misalnya, masih bisa dinikmati kalau kamu datang dengan ekspektasi melihat hiu raksasa bikin kekacauan. Begitu juga Red Notice, yang memang lebih mengandalkan chemistry pemain dan hiburan ringan daripada cerita yang benar-benar mengejutkan.

Yang membuat klise terasa mengganggu adalah ketika film punya premis yang jauh lebih menarik daripada cerita yang akhirnya diberikan kepada penonton. Kita bisa melihat ide besarnya, tetapi setiap kali film punya kesempatan untuk mengambil jalan berbeda, ia justru memilih jalur yang paling aman.

Dan mungkin itu yang paling bikin penasaran: berapa banyak film sebenarnya bisa menjadi jauh lebih bagus kalau berani keluar sedikit saja dari formula yang sudah kita hafal?