Ada aktor yang namanya selalu muncul ketika orang membahas akting hebat. Ada juga yang sudah memenangkan penghargaan di sana-sini. Tapi ada satu kelompok lain yang tidak kalah menarik: aktor yang pernah memberikan penampilan luar biasa, hanya saja entah kenapa tidak mendapatkan pengakuan sebesar yang seharusnya.
Bukan berarti mereka benar-benar tidak diapresiasi. Beberapa bahkan mendapat nominasi atau pujian dari kritikus. Masalahnya, penampilan mereka sering tertutup oleh film yang lebih populer, nama aktor lain yang lebih besar, atau karakter yang memang tidak dibuat untuk mencuri perhatian.
Padahal, kalau ditonton lagi, beberapa penampilan ini justru menjadi alasan kenapa filmnya bekerja begitu baik.
8. Ben Foster – Leave No Trace (2018)
Ben Foster bukan nama asing bagi penonton film, tetapi ketika membicarakan aktor dengan kemampuan akting luar biasa, namanya sering tidak masuk daftar pertama. Padahal Leave No Trace memberikan salah satu contoh terbaik tentang bagaimana seorang aktor bisa bermain dengan sangat minim tanpa terasa kosong.
Foster berperan sebagai Will, seorang ayah yang memilih hidup terasing bersama putrinya di hutan. Karakternya tidak banyak bicara, tetapi ada banyak hal yang terlihat dari ekspresi dan gerak tubuhnya. Foster membuat Will terasa seperti seseorang yang sedang berusaha keras mempertahankan cara hidupnya, meskipun perlahan sadar bahwa dunia yang ia bangun mungkin tidak bisa bertahan selamanya.
Tidak ada adegan yang sengaja dibuat untuk menunjukkan, “Lihat, ini akting hebat.” Justru karena itulah penampilannya mudah terlewatkan. Foster membiarkan karakternya terasa manusiawi, bukan sekadar pria bermasalah dengan masa lalu.
7. Elizabeth Olsen – Martha Marcy May Marlene (2011)
Sebelum dikenal luas sebagai Wanda Maximoff, Elizabeth Olsen sebenarnya sudah memberikan penampilan yang sangat mengesankan lewat Martha Marcy May Marlene.
Olsen memerankan Martha, seorang perempuan muda yang baru keluar dari sebuah sekte dan berusaha kembali menjalani kehidupan normal. Masalahnya, pengalaman yang ia alami membuat batas antara kenyataan, ingatan, dan paranoia semakin sulit dibedakan.
Yang menarik adalah bagaimana Olsen tidak memainkan Martha sebagai karakter yang langsung bisa dipahami. Ada ketakutan, kebingungan, rasa bersalah, sekaligus trauma yang semuanya muncul lewat ekspresi kecil.
Penampilan seperti ini sebenarnya sangat sulit karena aktor harus membuat penonton memahami kondisi karakter tanpa menjelaskan semuanya lewat dialog. Olsen berhasil melakukannya dengan sangat baik.
Sayangnya, ketika namanya semakin besar lewat film-film Marvel, penampilan awal seperti ini justru semakin jarang dibicarakan.
6. Carrie Coon – Gone Girl (2014)
Gone Girl punya Rosamund Pike sebagai Amy Dunne, dan memang sulit menyangkal bahwa Pike mencuri perhatian. Tetapi ada satu penampilan lain yang sering terlupakan, yaitu Carrie Coon sebagai Margo Dunne.
Margo adalah saudara perempuan Nick yang menjadi salah satu orang paling dekat dengannya ketika kasus hilangnya Amy semakin rumit. Perannya memang tidak sebesar Amy atau Nick, tetapi Coon memberikan energi yang membuat Margo terasa seperti manusia sungguhan, bukan sekadar karakter pendukung.
Ia harus memainkan seseorang yang terus melihat saudaranya membuat keputusan buruk, tetapi tetap memilih berada di sisinya. Ada frustrasi, kekhawatiran, dan rasa tidak percaya yang muncul tanpa perlu dibuat berlebihan.
Coon mungkin tidak mendapatkan momen besar seperti Pike, tetapi justru kehadirannya membantu membuat dunia Gone Girl terasa lebih masuk akal.
5. John Goodman – 10 Cloverfield Lane (2016)
John Goodman adalah aktor yang sudah sangat dikenal. Namun, penampilannya sebagai Howard dalam 10 Cloverfield Lane tetap layak disebut karena menunjukkan sisi dirinya yang mungkin belum sering dilihat penonton.
Howard awalnya terlihat seperti pria yang menyelamatkan seorang perempuan dari kecelakaan dan membawanya ke tempat perlindungan bawah tanah. Tetapi semakin lama, semakin sulit mengetahui apakah ia benar-benar penyelamat atau justru ancaman.
Goodman memainkan ketidakpastian itu dengan sangat efektif. Ia bisa terlihat tenang dalam satu adegan, lalu membuat suasana berubah hanya dengan tatapan atau perubahan intonasi.
Yang membuatnya menarik adalah penonton tidak pernah benar-benar tahu apa yang harus dipercaya. Goodman tidak memberikan jawaban terlalu cepat. Ia membiarkan Howard tetap ambigu selama mungkin.
Untuk film yang sebagian besar berlangsung di satu lokasi, penampilan seperti ini sangat penting. Kalau Howard tidak meyakinkan, seluruh ketegangan film bisa runtuh.
4. Rebecca Hall – Christine (2016)
Rebecca Hall mungkin sudah mendapatkan banyak pujian sepanjang kariernya, tetapi Christine adalah salah satu penampilannya yang terasa seperti belum mendapatkan perhatian sebesar kualitasnya.
Ia memerankan Christine Chubbuck, seorang reporter televisi yang mengalami kesulitan dalam kehidupan pribadi maupun profesionalnya. Film ini bukan tontonan yang mudah karena memperlihatkan seseorang yang semakin terisolasi dan kehilangan harapan.
Hall tidak mencoba membuat Christine menjadi karakter yang mudah dikasihani. Ia memberinya kepribadian, humor, kecanggungan, ambisi, dan rasa frustrasi. Hasilnya adalah karakter yang terasa sangat manusiawi.
Penampilan ini juga menunjukkan keberanian Hall karena ia tidak takut membuat karakternya terlihat tidak nyaman atau sulit dipahami. Tidak semua emosi harus terlihat indah di layar, dan Christine justru bekerja karena Hall berani menunjukkan sisi yang berantakan itu.
Kalau ada daftar penampilan Rebecca Hall yang wajib ditonton, film ini seharusnya berada sangat dekat dengan bagian atas.
3. David Oyelowo – Selma (2014)
David Oyelowo menghadapi tantangan yang cukup berat ketika memerankan Martin Luther King Jr. dalam Selma. Memerankan tokoh sejarah terkenal selalu memiliki risiko besar. Penonton sudah memiliki gambaran tentang bagaimana sosok tersebut berbicara, bergerak, bahkan tersenyum.
Namun Oyelowo tidak sekadar meniru King. Ia mencoba menangkap manusia di balik figur publik tersebut.
Ada karisma ketika King berbicara di depan banyak orang, tetapi ada juga kelelahan, keraguan, dan tekanan ketika ia berada jauh dari panggung. Perbedaan antara dua sisi itu membuat penampilannya terasa lebih hidup.
Ironisnya, meskipun banyak yang menganggap Oyelowo sangat layak mendapat perhatian penghargaan, ia tidak masuk nominasi Oscar untuk kategori Aktor Terbaik.
Hal tersebut membuat penampilannya di Selma semakin menarik untuk dibicarakan. Kadang sebuah penampilan bisa mendapatkan pujian luas, tetapi tetap gagal mendapatkan pengakuan penghargaan yang diharapkan.
2. Paul Dano – Prisoners (2013)
Paul Dano sering dianggap sebagai aktor dengan kemampuan memainkan karakter aneh, gelap, atau tidak nyaman. Tetapi Prisoners menunjukkan betapa efektifnya ia ketika memainkan karakter yang nyaris seluruh keberadaannya membuat penonton merasa tidak nyaman.
Sebagai Alex Jones, Dano tampil sebagai sosok yang sulit dibaca. Gerak tubuhnya canggung, cara bicaranya tidak selalu jelas, dan ekspresinya membuat penonton terus bertanya-tanya apakah ia menyembunyikan sesuatu.
Yang menarik, Dano tidak diberi karakter yang bisa dengan mudah dijelaskan. Penonton harus membaca sendiri setiap gestur dan reaksinya.
Ia juga bermain berlawanan dengan Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal yang sama-sama memberikan penampilan kuat. Akibatnya, kontribusi Dano kadang tenggelam ketika orang membicarakan Prisoners.
Padahal, rasa tidak nyaman yang menjadi salah satu kekuatan film ini sangat bergantung pada kehadirannya.
1. Toni Collette – Hereditary (2018)
Kalau ada satu penampilan yang sampai sekarang masih terasa seperti kesalahan besar ketika membicarakan penghargaan, jawabannya mungkin Toni Collette dalam Hereditary.
Collette memerankan Annie, seorang ibu yang keluarganya mulai mengalami serangkaian kejadian mengerikan setelah kematian ibunya. Filmnya memang horor, tetapi kekuatan terbesar Collette justru muncul dari cara ia menggambarkan seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas kehidupannya.
Ada kemarahan, kesedihan, rasa bersalah, ketakutan, dan keputusasaan yang muncul dalam penampilannya. Bahkan ketika Annie hanya duduk atau berbicara dengan anggota keluarganya, ada perasaan bahwa sesuatu sedang runtuh di dalam dirinya.
Lalu ada adegan pertengkaran keluarga yang sampai sekarang masih sering dibicarakan. Collette tidak hanya berteriak. Ia membuat kemarahan Annie terasa seperti akumulasi luka yang sudah terlalu lama disimpan.
Yang paling menarik, Hereditary adalah film horor. Genre ini sering dianggap sebelah mata ketika membicarakan akting dan penghargaan. Padahal, Collette membuktikan bahwa penampilan luar biasa tidak mengenal genre.
Ia memang mendapat banyak pujian dari kritikus dan penonton, tetapi absennya nominasi Oscar untuk penampilan tersebut tetap terasa aneh sampai sekarang.
Mungkin itulah masalah terbesar dengan penampilan-penampilan seperti ini. Kita sering mengingat filmnya, karakter ikoniknya, atau aktor yang akhirnya mendapatkan penghargaan. Tetapi ada penampilan tertentu yang baru terasa luar biasa setelah kita menontonnya lagi beberapa tahun kemudian.
Ben Foster membuat karakter pendiam terasa penuh luka. Elizabeth Olsen memperlihatkan trauma tanpa harus menjelaskannya. John Goodman membuat kita tidak yakin apakah harus percaya kepada seseorang. Rebecca Hall membuat karakter tragis terasa manusiawi. Dan Toni Collette membuat film horor terasa seperti drama keluarga yang benar-benar menyakitkan.
Pengakuan memang penting, tetapi tidak selalu menjadi ukuran terakhir. Ada penampilan yang menang penghargaan dan kemudian dilupakan. Ada juga yang tidak mendapatkan piala apa pun, tetapi terus dibicarakan bertahun-tahun setelah filmnya selesai.
Dan mungkin, justru penampilan seperti itulah yang paling menarik untuk ditemukan kembali.

















