Budget Ratusan Juta: 7 Film Modal Besar yang Dianggap Gagal Total di Box Office

•

•

7 minutes

Kalau bicara film berbudget besar yang gagal total, masalahnya bukan sekadar filmnya jelek. Ada film yang sebenarnya punya ide menarik, pemain besar, atau visual yang megah, tetapi tetap gagal mengembalikan modal karena biaya produksinya kelewat tinggi. Beberapa bahkan menghasilkan jauh di bawah angka yang dibutuhkan untuk sekadar menutup biaya produksi dan pemasaran.

Hollywood memang suka mengambil risiko. Semakin besar proyeknya, semakin besar pula uang yang dipertaruhkan. Film dengan anggaran US$150 juta sampai US$250 juta bukan sesuatu yang aneh lagi, apalagi kalau ceritanya membutuhkan banyak efek visual, lokasi besar, pemain terkenal, dan adegan aksi yang tidak murah.

Masalahnya, uang sebanyak itu tidak otomatis membuat penonton tertarik.

Ada film yang terlihat seperti calon blockbuster sejak pertama diumumkan, tetapi begitu tayang justru sepi. Ada juga yang sudah punya nama besar di belakangnya, namun tetap tidak mampu membuat penonton rela membeli tiket. Bahkan beberapa di antaranya kemudian dikenang bukan karena filmnya, melainkan karena kerugiannya.

Berikut beberapa contoh yang paling terasa betapa jauhnya jarak antara budget besar dan hasil box office.

7. Jupiter Ascending (2015)

Jupiter Ascending mungkin salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana ide yang sangat besar belum tentu mudah diterima penonton.

Film karya Wachowskis ini punya semuanya. Dunia fiksi ilmiah yang luas, kerajaan antargalaksi, alien, pesawat luar angkasa, adegan aksi, Mila Kunis, Channing Tatum, sampai Eddie Redmayne sebagai villain yang berbicara dengan suara aneh. Masalahnya, semua itu terasa seperti terlalu banyak hal yang dijejalkan sekaligus.

Budget produksinya diperkirakan mencapai sekitar US$176 juta, sementara pendapatan globalnya hanya sekitar US$184,3 juta.

Secara angka memang terlihat seperti berhasil mengembalikan biaya produksi. Tapi box office tidak bekerja sesederhana membandingkan budget dengan pendapatan global. Bioskop mengambil bagian dari pendapatan tiket, sementara studio juga harus mengeluarkan biaya pemasaran dan distribusi.

Hasil akhirnya, Jupiter Ascending lebih dikenal sebagai salah satu proyek besar yang gagal memenuhi ekspektasi daripada sebagai awal franchise sci-fi baru.

6. Pan (2015)

Sebelum tayang, Pan terlihat seperti proyek yang sulit gagal. Peter Pan adalah salah satu karakter paling terkenal dalam sejarah cerita anak, Hugh Jackman menjadi Blackbeard, dan Warner Bros. menggelontorkan sekitar US$150 juta untuk produksinya.

Ternyata hasilnya jauh dari harapan.

Pan hanya mengumpulkan sekitar US$129 juta di seluruh dunia. Artinya, film yang menghabiskan sekitar US$150 juta untuk produksi bahkan tidak mampu menyamai angka tersebut di box office global.

Masalahnya juga bukan sekadar angka. Film ini mencoba memberikan pendekatan baru terhadap kisah Peter Pan, tetapi hasilnya terasa seperti fantasi blockbuster yang terlalu sibuk memperlihatkan dunia dan efek visualnya. Penonton akhirnya tidak mendapatkan alasan yang cukup kuat untuk kembali ke dunia Neverland tersebut.

Kalau sebuah film harus mengandalkan nama Peter Pan untuk menarik perhatian, tetapi tetap kesulitan menemukan penontonnya, itu sudah menjadi tanda bahaya.

5. The Lone Ranger (2013)

Kalau ada kombinasi yang terlihat sangat meyakinkan di atas kertas, The Lone Ranger adalah salah satunya.

Ada Johnny Depp, Armie Hammer, sutradara Gore Verbinski, dan produser Jerry Bruckheimer. Tim yang sebelumnya sukses dengan franchise Pirates of the Caribbean ini mencoba menghidupkan kembali karakter klasik Amerika dalam bentuk blockbuster modern.

Masalahnya, skalanya terlalu besar untuk sebuah film yang ternyata tidak memiliki daya tarik sebesar yang diharapkan.

Budget produksinya tercatat sekitar US$215 juta, sementara pendapatan globalnya mencapai sekitar US$260,5 juta. Sekilas memang masih lebih tinggi dari budget, tetapi angka tersebut belum memperhitungkan pembagian pendapatan dengan bioskop serta biaya pemasaran yang sangat besar.

Hasilnya, The Lone Ranger menjadi salah satu kegagalan finansial besar Disney pada periode tersebut.

Ironisnya, film ini juga punya durasi 2 jam 30 menit. Jadi bukan cuma mahal, tetapi juga harus membuat penonton bertahan cukup lama untuk menyelesaikannya.

4. The 13th Warrior (1999)

Jauh sebelum era blockbuster modern, Hollywood sudah pernah mengalami mimpi buruk yang sama.

The 13th Warrior punya konsep yang terdengar keren: Antonio Banderas bergabung dengan sekelompok Viking untuk menghadapi ancaman misterius. Film ini juga disutradarai John McTiernan, nama besar di balik Die Hard dan Predator.

Produksinya ternyata mengalami berbagai masalah, termasuk perubahan dan pengeditan ulang setelah respons penonton uji coba kurang bagus. Budget yang awalnya jauh lebih rendah akhirnya membengkak. Box Office Mojo mencatat budget sekitar US$160 juta dengan pendapatan global hanya US$61,7 juta.

Ini sudah masuk kategori bencana finansial.

Yang menarik, The 13th Warrior bukan film yang sepenuhnya tidak punya penggemar. Justru sampai sekarang masih ada penonton yang menganggap film ini sebagai salah satu film Viking yang underrated.

Sayangnya, kualitas film yang baru dihargai belakangan tidak bisa mengubah fakta bahwa ketika dirilis, uang yang masuk tidak sebanding dengan uang yang sudah keluar.

3. Mortal Engines (2018)

Mortal Engines mungkin contoh paling menyakitkan dari film yang terasa seperti calon franchise besar, tetapi langsung mati setelah film pertamanya.

Premisnya sebenarnya menarik. Bayangkan kota-kota raksasa yang bisa bergerak menggunakan roda dan saling memburu untuk mendapatkan sumber daya. Secara visual, konsep seperti ini memang terasa cocok untuk layar lebar.

Universal mengeluarkan sekitar US$100 juta untuk produksinya. Hasil akhirnya? Pendapatan global hanya sekitar US$84,8 juta.

Yang membuat kegagalannya semakin terasa adalah ambisi film ini. Mortal Engines bukan dibuat seperti film kecil yang berharap menemukan penonton. Film ini dirancang sebagai pembuka dunia baru yang bisa dikembangkan menjadi franchise.

Sayangnya, penonton tidak cukup tertarik untuk membuat perjalanan itu berlanjut. Bahkan laporan saat perilisannya sudah menyebut film ini kesulitan menarik penonton Amerika Utara.

Jadi, dunia yang seharusnya menjadi awal petualangan panjang malah berhenti setelah satu film.

2. Mars Needs Moms (2011)

Kalau bicara soal perbandingan antara budget dan hasil akhir, Mars Needs Moms termasuk yang paling ekstrem.

Film animasi Disney ini menghabiskan sekitar US$150 juta, tetapi hanya menghasilkan sekitar US$39,2 juta di seluruh dunia.

Angkanya bahkan terasa sulit dipercaya.

Cerita filmnya sebenarnya sederhana. Seorang anak laki-laki bernama Milo harus menyelamatkan ibunya setelah sang ibu diculik oleh alien dari Mars. Masalah terbesar film ini bukan cuma ceritanya, tetapi juga pendekatan visualnya yang menggunakan teknologi performance capture.

Hasilnya terasa aneh bagi sebagian penonton. Karakter manusianya tampak seperti berada di antara manusia nyata dan karakter animasi, sesuatu yang justru membuat film ini terasa kurang nyaman untuk ditonton.

Ketika biaya produksinya mencapai US$150 juta tetapi pendapatan globalnya hanya sekitar seperempat dari angka tersebut, Mars Needs Moms berubah dari film keluarga ambisius menjadi salah satu kegagalan finansial paling terkenal Disney.

Dan mungkin yang paling menyakitkan, film seperti ini tidak punya kesempatan untuk mengatakan, “Setidaknya kita punya franchise.” Ceritanya selesai, dan proyeknya ikut berhenti.

1. John Carter (2012)

Kalau harus memilih satu film yang paling cocok untuk menggambarkan kalimat “sudah menghabiskan uang sebanyak ini, kok tetap gagal?”, John Carter mungkin jawabannya.

Film ini dibuat dengan budget sekitar US$250 juta dan menghasilkan sekitar US$284,1 juta secara global. Lagi-lagi, pendapatannya terlihat lebih besar daripada budget. Tapi setelah memperhitungkan pembagian pendapatan bioskop dan biaya pemasaran, angka tersebut jelas tidak cukup untuk membuat Disney tersenyum.

Yang membuat kasus John Carter semakin menarik adalah filmnya sendiri sebenarnya bukan bencana total.

Ada dunia Mars yang cukup menarik, adegan aksi besar, efek visual yang ambisius, dan cerita petualangan klasik. Masalahnya adalah film tersebut datang ke bioskop tanpa daya tarik franchise yang kuat. Penonton mungkin mengenal Disney, tetapi John Carter bukan karakter yang sudah punya basis penggemar seperti superhero atau karakter Star Wars.

Akhirnya, ratusan juta dolar sudah dikeluarkan untuk membangun dunia yang seharusnya menjadi awal franchise baru. Yang didapat justru salah satu kegagalan finansial paling terkenal dalam sejarah blockbuster modern.

Yang membuat film-film ini gagal bukan cuma karena mahal

Menariknya, hampir semua film di atas punya satu kesamaan: mereka tidak terlihat seperti film kecil yang salah perhitungan.

Justru sebaliknya. Semuanya punya konsep besar, aktor terkenal, efek visual mahal, atau nama besar di belakang layar. Persoalannya, penonton tidak membeli tiket berdasarkan jumlah uang yang dikeluarkan studio.

Budget besar hanya membuat risikonya semakin besar.

Film seperti Mortal Engines harus membuat penonton peduli pada dunia yang belum mereka kenal. John Carter harus menjual karakter yang tidak terlalu familiar. Mars Needs Moms harus membuat penonton tertarik pada gaya animasi yang tidak mudah diterima. Sementara Jupiter Ascending harus menjelaskan dunia fiksi ilmiah yang begitu rumit dalam satu film.

Pada akhirnya, blockbuster membutuhkan lebih dari sekadar uang. Penonton harus punya alasan untuk datang.

Itulah kenapa beberapa film dengan budget ratusan juta dolar bisa menghasilkan ratusan juta dolar juga, tetapi tetap dianggap gagal. Dan yang lebih menarik, ada pula film yang awalnya disebut flop tetapi justru menemukan penonton bertahun-tahun kemudian.

Karena di Hollywood, kadang-kadang filmnya gagal bukan karena tidak punya sesuatu yang menarik, tetapi karena biaya untuk membuatnya terlalu besar untuk ditanggung oleh jumlah penonton yang datang.